Minggu, 06 November 2016

AKU

Manusia ini tidaklah sempurna
Dirasa cantik pun sama sekali tidak
Lemah lembut ah apalagi itu
Jauh dari kata menawan

Bila cari yang mulus
Bukan aku
Jika mencari yang anggun
Jangan menoleh ke arah ku

Andai dirimu tahu
Aku hanyalah aku
Dengan segala kurang dan cacatku
Sama sekali tidak pandai melukis wajah

Tidak berusaha keras mempercantik wajahku
Aku hanya mencoba belajar perbaiki hati dan ibadahku

Aku ini bukan wanita kekinian
Aku hanya wanita sederhana
Yang kerap terlihat apa adanya
Dan ku katakan sama sekali tidak menawan

Sebab itu, berpikirlah dahulu
Serius kah engkau denganku
Atau hanya ingin menyimpan bayang semu?

Jumat, 14 Oktober 2016

Tertipu terangnya

Bagiku teman bagai petang
Sangat indah dihiasi warna jingga
Namun perlahan menghilang hapus senjanya
Itu lah mengapa hanya disebut teman
Karena indahnya sesaat saja
Terlihat sisi aslinya setelah sepersekian detik
Awalnya terlena dengan warnanya
Tapi kemudian bungkam lihat gelapnya

Teruntuk Mama dan Papa

Setelah sekian tahun kau mendidikku
Tidak pernah berkata lelah
Tanpa bisa ungkapkan duka
Hanya bisa berkata aku tidak mengapa

Dahulu aku tidak mengerti apa apa
Tapi kini ku mulai beranjak dewasa
Lalu berpikir kalian sangat ku cinta
Karena lihat pengorbanan yang luar biasa

Sekarang aku belum bisa balas semua
Tapi semoga Tuhan merestui segala cita-cita
Untuk aku bisa buat kalian bahagia
Agar segala perjuangan kalian tidak sia sia

Sabtu, 06 Agustus 2016

Semoga Tetap Berarti

Aku tidak pernah memaksa
Apalagi memerintah seenaknya
Sungguh hati mudah berganti rasa
Tak bisa dikunci lalu tak goyah
Pun diri bisa bosan dengan sendirinya
Tapi ku jujur pada hati dan naluri
Bahwa aku takut di caci
Takut kau suduti
Karena kurangku ini
Awalnya tak kurasa kau berarti
Tapi kini tanpamu akan sunyi
Aku mulai terbiasa dengan kasih
Rindu ingin berseru memelukmu
Tapi apa lah daya aku tak mampu
Karena ditengah aku terperangah
Ada jarak tinggi yang tak berarti
Hantui naluri dengan ilusi
Jika kau tidak lama bersemi
Biarlah hatiku yang menjerit jadi
Mungkin tidak sampai ku mati
Tapi setidaknya kau tetap berarti

Jumat, 05 Agustus 2016

Bahagia Dalam Derita

Masih kah bisa berjalan
Tatkala jiwa enggan melawan
Gemercik air berkericik
Terdengar merdu bak melodi syahdu
Sepenggal asa dalam duka
Hadirkan setitik suka nan pelik
Tatapan nanar hadir dalam bingar
Bersama hati rasa irama
Sambut senja dengan gembira
Bagai mengarit kala mentari terbit
Tak semua derita bisa kau rasa
Meski bahagia bercampur duka
Darah mengalir lewati aliran air
Tersayat pedang tanpa perang
Tidak kah perlu bertanya tanya
Karena sungguh ku berkata
Kan ada bahagia dalam derita

Senin, 01 Agustus 2016

Ilusi Rasa

Aku merasa bahagia
Tapi tak nyata
Aku menjadi istimewa
Hanya saja itu maya
Bagaimana bisa aku buktikan semua
Kalau cintanya tak ada
Padahal rasa ini benar adanya
Tidak ada kata bercanda
Aku sampai lupa berbahagia
Karena sibuk obati luka
Cuma senja yang rasa
Bagaimana adanya lara
Hanya angan yang mampu balut kesenjangan
Karena semua hanya ilusi rasa

Sabtu, 23 Juli 2016

Kawan Yang Melawan

Hati-hati dengan dirimu sendiri
Jangan berlagak pandai sekali
Nyatanya tak mampu jaga diri
Selalu sakiti hati dengan caci
Dari lidah orang yang kau percayai
Bukan masalah banyak kawan
Namun terkadang lenyap terbang ke awan
Terkekeh geli dengan tingkah lakunya
Mulut manis pantat berbicara sadis
Lucu lihat kawan yang melawan
Menentang hati nurani demi mencaci
Susah kemari senang pergi
Angkat dagu dan sombong sekali
Sungguh tak tahu diri
Tapi terimakasih tidak lama berdiam diri
Bisa jadi kau mati karena ulahmu sendiri
Dan kini ku ketahui
Bahwa kawan terbaik ialah dirimu sendiri

Serpihan Gelap

Lihat tidak indahnya langit pagi hari?
Menawan diiringi langkah awan
Itu lah kebahagiaan
Namun bahagia tak mesti tentang pagi
Coba lah sesekali rasakan gelapnya malam
Tetap ada walau tak di raba
Masih berdaulat walau tidak di lihat
Nah itu pun bahagia
Bagi dirimu yang mampu menikmatinya
Bahagiamu tak melulu tentang rindu
Tapi juga atas sesuatu yang berderu
Hati tidak mesti hanya gersang
Hanya saja sesekali jadi cemerlang
Yahhh.. Mestinya jangan perang
Harusnya berdamai dengan bintang
Agar kau rasakan indahnya terang
Seperti cahaya malam
Yang tahan akan penolakan
Layaknya serpihan gelap
Yang mampu diam dan menetap

Selasa, 05 Juli 2016

Ramadhan Menuju Lebaran

Setiap muslim rindu Ramadhan
Semua insan inginkan lebaran
Suatu masa keberkahan
Tak melulu datang kala bulan terbenam
Hari fitri dinantikan
Sebagai hasil pencapaian
Yang beratasnamakan kemenangan
Berpuasa namanya
Tahan lapar dan haus dahaga
Hawa nafsu pun harus di cegah datangnya
Hingga akhirnya, semua bahagia
Bersalam salaman dengan sesama
Seketika saja ramai di pasar
Sambil berkipas terasa antusias
Banyak orang, bukan segelintir
Sambut datangnya syawal dengan takbir

Senin, 04 Juli 2016

Maknai Diri

Yang ku ucap tak sejalan
Yang ku utarakan tak sesuai
Manusia yang begitu perasa
Tak salah kan siapa siapa
Pikirlah dengan naluri
Tanyakan pada hati
Bagaimana cara memaknai diri
Banyak-banyaklah instropeksi
Boleh jadi diri salah berlari
Sedikit sekali yang mudah redam emosi
Jika tak disadari bisa hancur sendiri
Kemudian tertulis guratan ambisi
Berpikir tuk menguasai
Segala keadaan dengan diri
Hih! Tidak kah pantas berlaku keji
Pahami diri lalu belajarlah hadapi
Segala benci dan caci setiap insani
Jika kau dijahati jangan membenci
Balas saja dengan seringai lembut
Yang kemudian buat dirinya tak enak hati

Ambisi Insani

Manusia yang selalu berlalu lalang
Berlagak bagai awan benderang
Ternyata hanyalah alang-alang
Tak pernah meninggi menembus langit
Sulit meredam segala ambisi
Segala hal jadi halal
Tidak berfikir baik kah tidak
Pelangi datang setelah hujan reda
Jadikan dunia bak nirwana
Padahal segalanya sia sia saja
Ini kah hidup yang sementara
Mesti dipertimbangkan baik buruknya
Cukup hati dan diri bertaut cinta illahi

Cukup Kau dan Aku

Perlahan ku berjalan
Menapaki resah rindu malam
Dihantui cemburu begitu dalam
Cemas selimuti seluruh malam
Tangisan jatuh ke tebing curam
Mengertilah rasa ini benar bersemayam
Aku berharap kau percayai
Harap asa padamu sangat berapi
Hanya sekejap kau robohkan
Dinding tajam yang berlumur kepedihan
Ini benar datang kenyamanan
Dirasa mampu obati luka terpendam
Jangan kemana-mana lagi
Aku takut sendiri
Tetaplah disini bersama diri
Cukup kau dan aku satukan hati

Senin, 20 Juni 2016

Ternyata Kita Sama

Tak sangka rasa ini benar adanya
Saling punya namun tak berkata
Seolah biasa tapi bertatap mata
Semua beda rasanya
Aku sangat bahagia
Kita saling merapal lewat doa
Tak bosan hati meminta
Sematkan nama orang tercinta
Tak putus panjatkan sampai kini
Teruslah hingga nanti
Sampai kenyataan tiba setelah mimpi
aku berusaha setia hingga nanti
Semoga kita benar dipertemukan dalam ikatan suci

Rabu, 15 Juni 2016

Diam dan Menepi

Kau hadir bersama hingar bingar
Peluk senjaku hinga layu
Nyaman kurasa dalam dekapmu
Tapi tinggi rasa takutku
Buatku berfikir dengan naluri
Ku takut kehilanganmu
Benakku perlahan mengasingkan
Hilangkan rasa yang lebih dalam
Perlahan ku tautkan jemari menari
Kadang bahagia didapati
Atau sedih boleh jadi
Namun hati ini berharap padamu
Tautan rasa menguras jiwa dan raga
Tapi logika ku menyinari
"Janganlah terbawa situasi"
Baiklah ku kan diam dan menepi
Akhirnya ku redam lah rasaku sendiri
Tuk yang kesekian kali

Jumat, 10 Juni 2016

Lamunan Senja

Ya tuhan, aku sungguh tak tahan
Ku ingin mengadu namun mereka tak disisiku
Sungguh tak ingin rusak karena isak
Aku ingin kuat bagai tali pengikat
Derai tangis deras basahi pipi
Kau hebat seakan tak mengapa
Tanpa kau sadar diriku remaja yang menuju dewasa
Kau sangka aku tak mengerti
Segala benci yang terjadi
Aku lah yang paling tersudut disini
Semua berdiri dengan ego tinggi
Seakan aku bukan lagi peri
Yang mendamaikan segala pagi
Aku lihat, benci di sudut matamu
Semula semu lalu kembali beradu
Apakah untuk berhenti saja tak mampu?
Bukan untukmu sendiri
Melainkan bagi ku, anakmu
Amarahmu tak kan berarti
Kau hanya perlu mensyukuri
Bukan mencaci maki
Sekarang aku mengerti
Apa arti indahnya pagi
Semua damai bagai ombak pantai
Tapi sulit ku temukan sekarang ini
Semua lenyap tertelan gelap
Malam yang ku nanti selalu sunyi
Pun jarang bintang benderang
Bagai hati ku kini
Sepi dan tak ada lentera yang terangi.

Kamis, 09 Juni 2016

Naluri Ananda

Pelita adam dan hawa
Pelipur lara hilang dahaga
Curahan hati ananda
Untuk ayah bunda tercinta
Betapa hati ingin buat bahagia
Namun sabarlah hingga waktu tiba
Tak ada rasa dilema tuk beri bahagia
Tapi khawatir aku tak bisa
Pun kalbu menangisi lara
Rasa cinta kental terasa
Doa membayang segala tepi jalan
Ku aminkan selalu yang kau impikan
Kau berdoa aku berusaha
Jangan khawatir ku tak cinta
Segala dunia akan ku sahaja
Demi kedua orang tua
Naluri ananda selalu ingin buat kau tertawa bahagia

Jumat, 27 Mei 2016

Takut

Aku takut berkawan
Takut di tahan
Aku takut berteman
Takut di sia-siakan
Belajar sendirian
Agar tak terasingkan
Tak ingin di hiraukan
Jadi biarkan aku bersama kedamaian

-mia-

Rabu, 25 Mei 2016

Tertahan

Mata kita saling menatap
Dan tubuh kita seakan terikat
Mulut kita tak saling berucap
Tapi hati kita selalu mengecap
Seakan bisu membelenggu
Namun hati yang berusaha menyatu
Tidak saling berterus terang
Tapi merapal doa dengan tenang
Mencoba berkata jujur
Lalu halangan berseluncur
Pedih disini ada rasa tertahan
Tapi biarlah sembunyi bak tahanan
Jika benar adanya kita saling cinta
Biarlah mata hati yang bicara
Hingga tiba waktu bersama-sama
Selamanya

-mia-

Hati-hati dengan hati

Wanita berpikir dengan rasa
Tidak gunakan logika
Karenanya selalu tak enak hati
Bukan hal berhalusinasi
Tapi takut menyakiti
Tak pernah berimaji
Karena rasa terpaut diri
Berharap melawan dengan berani
Setelah terucap ciut nyali
Itu sebab harus di lindungi lelaki
Agar mampu beri nyaman lubuk hati
Semoga lelaki baik yang menghampiri
Agar merasa enggan tuk melukai
Tak pernah takut kulit berdarah
Hanya takut tahan amarah
Bukan luapan fisik yang terjadi
Alih-alih tangisan yang menjadi-jadi
Ketika hatinya terkulai
Sulit sekali tuk melerai
Karena bagi seorang wanita
Hati yang paling mulia
Oleh karena nya selalu dijaga
Sebab belum ada obatnya

-mia-

Selasa, 24 Mei 2016

Lantunan Cerita

Kala hujan merintih
Gemercik air tertatih
Satu hal dengan perasaan
Hanya bisa mengalir dan terlontar
Namun rasa ini beda
Aku sangat ingin dicinta
Tapi tak mampu di kata
Akhirnya ku hanya bisa lantunkan cerita
Lewat beribu doa
YaAllah.. Rasa ini untuk dia
Semakin melupa malah semakin terasa
Hanya mampu terungkap oleh doa
Biarlah dilema melanda
Asal halal sampai tiba
Tak mampu merengkuh dirinya
Hanya mampu memeluk lewat doa
Semoga saja dia merasa
Kemudian teguhkan rasa
Lalu lamaran pun tiba
Ya begitu lah, hanya bisa berdoa
Hahaha hayalan yang tertunda
Amin kan saja
Boleh jadi terlaksana

-mia-

Jumat, 20 Mei 2016

Titik Kejenuhan

Hanya mampu aku tuliskan
Hati dan perasaan yang tertekan
Ku ukir dengan tinta hitam
Agar dapat sedikit hilang segala kelam
Bimbang, saat hati di melayang
Perlahan tinta menembus kertas tipis
Robekkan luka di ambang kehancuran
Sedikit remasan buat banyak luka kusut
Terbuang dan kemudian menyusut
JENUH! BENCI!
segalanya bercampur duri
Peluh, darah, hingga nanah
Menjijikan!!
Sekedar membasuh saja tak mampu
Apalagi harus merengkuh
Kau jauh! Aku tak sanggup untuk itu
Tapi hati terus berteriak
Aku ingin bersamamu
Namun seketika lidah kelu
Tak ingin berseteru
Dan kemudian hapuskan bahagia yang semu

-mia-

Luapan Emosi

Luapan yang ku tahan
Sedikitpun tak ku curahkan
Tak sanggup ku lontarkan
Hanya mampu hiasi pipi dengan bulir suci
Perasaan selalu ku sembunyikan
Sulit aku jauhkan
Segala caci, maki, bahkan benci
Selalu ku telan sebisa ku bertahan
Titik jenuh, disini kacau riuh
Aku simpan rasa ku rapat-rapat
Agar aku bisa mengumpat
Hindari jeratan asmara berapi
Ku rasa benci dan ingin mencaci
Tapi hati ini semakin tertunduk menghormati
Tidak, tidak
Bukan aku lemah!
Hanya saja hati memaksa
Tuk tetap diam dan bungkam
Karena diri ini lebih anggun bersenandung
Hati ini lebih berkilau dan elegan
Tidak termangun dan menyandung
Tak mengigau dan sakiti kawan
Karena itu sungguh menyakitkan

-mia-

Kamis, 19 Mei 2016

Cermin Yang Berbeda

Kau terlihat menawan
Namun kau harus ku hiraukan
Wajahmu menarik
Tapi sayangnya ku sudah tak tertarik
Kau bengis bak pengemis
Kau licik seperti api yang gemercik
Rupamu dalam cermin sangat mendayu
Tapi bayanganmu semu
Kau tersenyum pandai
Namun didalamnya menyeringai
Mulutmu tipis tapi sadis bak pisau pengiris
Tajam dan menghujam
Cermin yang menjelaskan
Hatimu tak secantik rupa yang kau tunjukkan

-mia-

Rintihan Doa

Berjanjilah untuk tetap berupaya
Kejar mimpi kala fajar bersemi
Tak apa kau menderita hari ini
Demi kejayaan esok hari
Karena rintihan asa mu kini
Kan berubah jadi bahagia kemudian hari
Teruslah berjuang, sayang
Bukan untuk diriku
Tapi bagi dirimu sendiri
Kerahkan ambisi tuk cita yang mulia
Tak lupa doa terhadap Tuhan yang Esa
Jangan khawatirkan diriku, sayangku!
Aku pun kan selalu doakanmu
Walau aku tak tahu siapa akhirku
Tapi kau tetap ada dalam doaku

-mia-

Peluh Sang Hawa

Jumpa sebait yang sulit di sampaikan
Hanya perasaan yang bisa di simpan
Memperhatikan tanpa menunjukkan
Kelembutan yang tampak mengasyikkan
Hanya ada pada diri sang hawa
Tak mudah lupakan cacian
Karena gunakan perasaan
Meratap seorang pangeran menawan
Yang tampak sedikit menyeramkan
Dirinya sangatlah rupawan
Namun terlalu menutup rapat keindahan
Sampai pun peluh menetes
Hanya sang hawa
Hanya sang hawa
Hanya sang hawa yang mampu lihat pesonanya

-mia-

Selasa, 17 Mei 2016

Ketika tatapan dan perasaan tak sejalan

Kau tak pernah tahu arti tatapannya
Namun kau lebih tak tahu apa yang dirasakan hatinya
Karena terkadang dirinya sangat pandai
Sembunyikan rasa yang sungguhan ada
Lidah mudah mengecap
Namun terkadang hati menolak
Tatap dan rasa sering kali beda
Tapi mata yang jawab kebenarannya
Mulutnya amat tajam dan menghujam
Tapi hatinya lembut dan membuat kalut
Itulah sebabnya sulit artikan tatapan dan tindakan.

-mia

Rabu, 11 Mei 2016

Sahabat dalam tempat

Kita tak dipertemukan dalam akad
Tidak berjanji dalam ijab
Kita hanya bersatu dalam dimensi ruang dan waktu
Kita berjumpa pada satu masa dengan ribuan makna
Aku tak pernah tahu mengapa?
Yang aku tahu, takdir yang meminta
Sebenarnya disekolah tercinta, kita hanyalah tamu
Yang bertujuan menuntut ilmu
Namun bagaimana bisa kita layaknya tuan rumah
Yang melakukan segala hal dengan tak payah

-mia-

Selasa, 10 Mei 2016

Hilang Gundah

Ketika tangan ini terangkat
Hati dan jiwa sejenak mengikat
Sungguhan ingin berkat Sang Kuasa
Tetap terpejam namun bergumam
Tak ayal rasa pedih iris nurani
Tuhan, ijabah permintaanku
Enyah gundah dalam benakku
Sangat damai ku rasa pilu
Tatkala kening bersimbah sujud padaMu
Jangan goyahkan hati ku
Teguhkan asa dan pribadi diriku
Karena kini
Aku merasa tentram di relung hati
Sebab cintamu tak pudarkan imani

-mia-

Kamis, 05 Mei 2016

Ujung Kerinduan

Rasa yang selalu ku tahan hingga kini
Tak lepaskan rindu yang dinikmati
Selalu menginginkan tiba sang mentari
Basuhkan gelap efek malam hari
Ingin bersatu
Namun tak kunjung bertemu
Disini dan saat ini
Aku rindukan pelukan hangat
Jalan setapak yang mengiringi
Langkah gontai yang merantai
Ku harapkan segera dipertemukan
Dalam kehangatan fajar
Jarak yang membentang
Membuatku mengerti arti kerinduan
Untuk sekarang aku tak bisa berkutik
Layaknya benda halus menggelitik
Hanya doa yang ku yakini
Akan mengiring rasa rindu kepada pujaan hati

-mia-

Rabu, 04 Mei 2016

Ketakutan ini

Bukannnya aku tak mau bercerita
Tapi cukuplah saja
Agar aku tak menderita
aku hanya takut kau salah sangka
Padahal rasaku ini benar adanya
aku takut hati hancur karena berbaur
Tak mampu lewati duri yang berapi
Biarkanlah aku yang merahasiakannya
Menutup rapat-rapat cinta sang senja

-mia-

Sembunyi-sembunyi

Aku diam namun memperhatikan
Gundah ketika melihat matanya
Lidah kelu tatkala berucap
Dia, dia yang selalu aku perhatikan
Ingin sekali menjadi orang yang dinantikan
Ah!! Tapi rasanya itu tak akan
Aku gundah, sangat resah
Ingin mengatakan, namun tertahan
Sssstt... Baiklah aku akan berbisik
Aku mengaguminya
Tapi biar saja lah
Biarkan tuhan mengatur semua..

-mia-

Senin, 02 Mei 2016

Masa SMA

Ketika mataku terpejam
Aku menatap langit yang menghitam
Alunan melodi yang berderu
Beradu dengan seruan kebahagiaan

Sedih, canda, suka, dan duka
Semua ada bersama datangnya raga
Kegundahan yang mendekat
Ditampis dengan rengkuhan yang mengikat

Bersama wujudkan mimpi
Dalam sebuah angan yang berapi-api
Pelukan hangat sang sahabat
Jadikan pelita jiwa yang hebat

Ketika jenuh tiba di pelupuk mata
Mereka mendekat membawa seikat mawar hitam
Pasti aku rindukan segala bahagia dan kelam
Tak usai sampai disini
Karena masa ini akan senantiasa bersemi
Bagai bibit rindu yang selalu tumbuh dalam hati

Kelak kita menantikan masa ini
Tapi mungkinkah kita akan kembali?
Bersama dalam waktu lama
Hadapi kisah klasik masa SMA

Bertemu sekata bernama cinta
Jumpa sekalimat bernama sahabat
Ingin terbebas dari aturan menakutkan
Namun tetap menikmati alur ketetapan

Ku pikirkan ini masa membosankan
Tapi ternyata sangat mengesankan
Dan ku semogakan kita dipertemukan dalam satu keberhasilan.

-mia-

Belenggu Asa

Mungkinkah aku terjerat dalam angan?
Padahal aku tetap disini
Tak pernah kemana-mana
Aku ingin menyimak namun rasaku menyuak
Raga ini terbelenggu dalam asa yang kelabu
Aku mendekatimu namun dia bersamamu
Aku berdiam tak bergeming
Bagai malam yang suram
Aku berdamai dengan impian
Menginginkan pagi yang menyilaukan hujan
Rasaku tak kemana-mana
Tapi ragamu yang pergi entah kemana

-mia-

Gedung Tua

Bagaimana mungkin aku terjebak disini
Busuk, sepi, kotor, lembab, tak berudara
Bagaikan mati kelaparan karena kotoran
Sungguh menohok hingga ujung hidung
Aroma tak harum pun melilit tubuh
Aku ini manusia, bukan binatang liar
Aku tak mampu tertahan dalam angan
Enyahkan lah semua ini
Robohkan saja dinding-dindingnya
Aura misteri menyelimuti hati
Jadikan pikiran dan emosi menari-nari
Hahaha.. Jangan jadikan aku iblis keji
Aku ingin berusaha, perlahan harus bisa
Jadikan gedung tua sebagai istana surga
Agar mimpi dalam tidurku selalu terjaga...

-mia-

Minggu, 01 Mei 2016

Di Selembar Kertas

Dalam selembar kertas aku mencoba
Meneteskan tinta harap dan asa
Goresan kegundahan
Coretan kebahagiaan
Bahkan robekan amarah yang berapi
Aku tak pernah bosan menuliskan
Walau nanar dirasakan
Dalam selembar kertas aku mampu.
Meredam emosi yang menggebu
Menahan ambisi yang melaju
Dan melukiskan kebahagiaan yang bersatu padu.
Ketika mereka tak lagi menggandeng tanganku
Aku tahu kau selalu menemaniku
Saat mereka meninggalkanku
Aku sangat tahu bahwa kau akan selalu disisiku.
Dirimu memang bungkam
Tapi aku rasa kau membuatku tentram.

-mia-

Tak percaya

Tetap berdiam tak bergeming
Apa kau yakin jika di beri iming-iming?
Untuk apa mempercayakan dirinya
Hmm, sangat berbisa
Bagai ular yang mencari mangsa
Jangan mudah terpedaya
Itu hanya ilusi mulut saja
Teguhkan pendirianmu
Jangan terpengaruh desisannya
Bisa saja dirinya berkhianat
Tanpa kau sadari, kau sudah terjebak dalam perangainya.
Tapi lihat saja, pasti dia kena laknat.

-mia-

Sabtu, 30 April 2016

Kedamaian

Aku ingin membeku dan menjadi salju
Sebentar saja..
Agar aku tahu rasanya berdiam dalam kaku
Aku ingin merasakan mataku terpejam
Agar tak melihat kau menghujam
Ingin sekali..
Aku sangat ingin terkapar dalam sinar
Agar aku yakin bahwa aku mampu.
Mampu menikmati sunyi lalu melupakan benci
Aku bosan dengan kebisingan
Aku jenuh dengan kegaduhan
Bisa tidak, sejenak saja aku merasakan keindahan?
Jangan mendekat padaku dulu jika hanya ingin mengadu
Hati rasa pilu ketika kau mencampuri damai ku.
Aku mohon, untuk beberapa waktu saja.
Biarkan aku terpejam dan bungkam.
Tunggu lah disini, karena aku pasti kembali lagi.

-mia-
30 april 2016
19:19

Jumat, 29 April 2016

Zaman Yang Sulit

Ternyata tidak hanya mencari uang yang sulit
Kawan pun dapat menjadi kesulitan
Terkadang kawan bisa menjadi lawan
Mendekati bukan karena keikhlasan
Tapi karena kemauan
Sulitnya mencari kawan terbaik
Ibarat menggali dengan mencabik
Jangan lukai jika tak ingin disakiti
Ingatlah bahwa karma akan selalu ada
Dan hukum alam akan membayang hingga kelam...

-mia-

Kau Berlian

Telingaku terasa panas
Hatiku meluap-luap
Entah apa rasanya ini
Aku kesal dengan cacimu
Sosok menyeramkan bak ratu penyihir
Namun kau mendamaikan bagai peri air
Aku ini hina
Selalu menyerangmu seperti tentara perang
Yang tanpa aku sadari aku adalah udang.
Bodoh dan memalukan.
aku tak pernah meminta untuk dilahirkan
Tapi aku tak pernah menyesal terlahir dari rahim seorang ibu sepertimu, bundaku.
Kau harus tahu, anakmu ini selalu berusaha membahagiakanmu
Namun seringkali aku terpeleset menafsirkan kebahagiaanmu
Doakan aku agar bisa menjadi kebahagiaanmu dengan diriku sendiri.
Karena bagaimana pun
Kau surga nyata bagiku
Bunda, kau berlian ku.
Sampai kapan pun itu.

-mia-

Rinduku


Entah merindukan apa
Mungkinkah kau orang yang ku kagumi
Ataukah merindukan masa depan
Rasa bimbang kental terasa
Merindukan si dia merindukan si itu dan merindukan si anu
Satu kesatuan yang mengadu
Terus mengusik hingga diriku lengah
Pikiran tak cukup satu
Tapi ku rasa, hati tahu mana yang harus di pacu
Ku semogakan aku merindukan cinta masa depan ku

-mia-

Minggu, 24 April 2016

Sosok Itu

Hei kau! Aku sungguh tidak mengenalimu
Aku berani bertaruh akan hal itu.
Tapi mengapa ada dorongan keras dibelakangku?
Seakan menyuruhku untuk beradu.
Bagaimana mungkin?
Sosok yang tak aku kenali sama sekali
Tapi aku selalu penasaran dengan sosok itu.
Siapa gerangan dirinya?
Terngianglah pertanyaannya
Menarilah bayangannya
Aku harus bagaimana? Haruskah aku tetap berdiam?
Melihatmu dari kejauhan atau duduk manis menunggu rengkuhan?
Sosok itu, selalu memenuhi pikiranku.
Hey!! Tapi mungkin itu kekaguman semata
Bukan perasaan cinta.
Ah entahlah, tuhan yang tahu akan segala.

-mia-

Rabu, 20 April 2016

Kisahku

Pelangi berwarna jingga
Yang tiba di pelupuk mata
Sungguh nikmat tuhan yang istimewa
Hati yang tersayat maha dahsyat
Menyisakkan luka yang beku
Lapisan hati bak besi baja
Yang tahan akan cemoohanmu
Terkadang jiwa ini berontak kepada raga
Bagaikan petarung yang meraung
Tatkala air mata merintih
Peluh menetes dengan tertatih
Tak usai sampai sini
Karena aku terus berlari

-mia-

Senin, 18 April 2016

Merindukan Hujan

Terik yang menyengat sungguh membawa berkat bagi sang penikmat
Namun tak disangkal hujan pun di damba
Ingin rasanya diguyur hujan dikala panas tiba
Agar dapat terlupa segala caci
Cukup angin yang menghembus mesra
Menepi butir-butir benci dalam hati
Rasa gundah diselimuti
Segala puji yang tak henti
Meniti setiap inci dalam rinci
Aku merindukan hujan dalam fajar
Ketenangan yang menggelegar
Bulir air yang mengalir
Menyisakkan luka hanya segelintir
Cipta rasa hati manusia
Yang tak hilang dilapisi penat
Kobar rindu yang bergejolak
Dalam merindukan hujan yang terarak

-mia-

Minggu, 17 April 2016

Misteri

Seperti penari yang mengenakan jubah
Kau sangat sukar untuk aku jamah
Menatap saja tidak ke atap
Bagaimana hati bisa menetap
Bukan lelucon yang didamba
Hanya saja kejujuran yang terkadang membuat iba
Tak pandai aku lukiskan
Hanya sangat mudah aku nantikan
Entahlah, aku dilema
Hingga tipu muslihatpun kau ajukan
Sampai untuk bertemu pun jadi enggan

-mia-

Sabtu, 16 April 2016

Dua Sisi

Isi hatiku tak melulu tentang rindu
Ada juga ambisi yang beradu
Untuk nyata yang menggebu
Bak melodi yang tersusun syahdu
Seperti angin yang terbelenggu
Hatiku jua pilu
Benar adanya jika aku tak butuh seribu
Cukuplah satu
Jikalau dapat membuat kotoran hatiku tersapu

-mia-

Senin, 11 April 2016

Teruntuk Yang Ku Cinta

Kau tahu tidak bagaimana kehidupanku?
Hidupku tak seperti kau dan kawanku
Kerasnya batu saja sampai kalah dengan kerasnya kehidupanku
Bagaikan merpati ku ingin terbang bebas
Seperti mentari yang tak pernah bersedih
Tega nya kau memberikan jalan berlubang
Padahal kau santai dengan lihai
Ibarat api aku lah yang terbakar
Bagaikan es aku lah yang mencair
Kau harus mengerti betapa pun sulit dilalui

-mia-

Jumat, 08 April 2016

Mengapa bisa

Entah ada getaran dari mana
Setiap aku menyebut namamu
Selalu ada kebahagiaan tersendiri bagiku
Ada getaran yang hebat memenuhi hatiku
Aku sendiri tak mengerti mengapa bisa seperti ini.
Semua terasa seperti nyata
Namun aku kembali ke dalam duniaku
aku sadar bahwa kau bukan lagi siapa-siapa
Namun tak dipungkiri
Hati ini tak henti mendoakanmu

-mia-

Pergilah

Jangan berkata yakin jika kau bimbang
Mungkin saja hatimu sedang kacau
Sehingga terbalut rasa bosan
Mungkin saja kau seperti itu adanya

Sudahlah, jangan berlarut dalam kesedihan
Kau biarkan saja kaki mu melangkah
Kemanapun kaki mu inginkan
Bukankah rasanya sama saja?

Kau bertahan pun di hinggapi rasa lelah
Tapi kau tak mendapatkan apa apa
Lebih baik kau berjalan
Agar mendapatkan hiburan yang kau butuhkan

Benar bukan?
Untuk apa kau bertahan
Jika hatimu terus menerus di patahkan

-mia-

PILU

Aku mampu, sungguh sangat mampu
Namun apa daya karena masih terbelenggu
Hati yang terpecah belah
Jiwa yang meronta-ronta

Hahaha..
Hidup sangat menyakitkan
Benar adanya jika ada kekerasan
Bukan hanya jiwa tapi raga pun merasa

Sekedar tersenyum saja sulit
Apalagi untuk tertawa bahagia
Sangat tak bisa
Namun apa daya karena hati telah terluka

-mia-

Selasa, 05 April 2016

Bisakah

Mungkin aku yang terlalu lemah
Tidak paham akan diriku sendiri
Apa yang bisa aku lakukan
Sedangkan kau terus berlari tanpa henti

Ah! mungkin saja aku yang terlalu letih
Tak bisa memaknai hatiku sendiri
Bagaimana caranya agar kau paham
Sedangkan diriku terus bungkam

Namun kupikir, aku tak perlu memulai semuanya
Tetapi apakah aku mampu
Egois sekali diri ini
Menuruti hawa nafsu yang terbelenggu

Harusnya aku ikut kau saja
Sesal yang ku alami setelah kau pergi
Sudah aku bilang itu salahku
Tak mampu melihat siapa sebenarnya aku

Huh, lelah rupanya memahami diriku ini
Tak mampu menengok pada hatiku sendiri
Apakah bisa kau menjadi nyata yang selalu aku semogakan?

-mia-

Senin, 04 April 2016

Hanya

Bukan kau, tapi aku
Kau pun berkata
Bukan aku, tapi kau
Begitulah seterusnya
Tak pernah mau disalahkan
Bagaimana bisa kita tetap teguh
apakah mampu untuk menyebranginya
Jangan bilang...
Semua itu sebatas 'hanya' yang kita angan angankan

Rabu, 30 Maret 2016

Upaya

Denting yang bergerak
Tak pernah koyak
Seperti kikisan berkarak
Ciptakan suasana yang terarak

Langkah yang tak henti meniti
Jiwa yang tak mudah berapi
Rasa yang sudah menepi
Ciptakan suasana yang sunyi

Kilau senja sore hari
Mempersiapkan diri lebih berani
Tak henti untuk berdiri
Melawan malas yang tak berarti

Tak apa air mata berlinang
Berusaha melewati rintang
Gagal lah untuk menang
Meraih mimpi di masa mendatang

Rabu, 16 Maret 2016

Lampau

Dahulu sekali kita bersama-sama
Dahulu sekali kita bersenda gurau
Dahulu sekali kita berimajinasi
Dahulu sekali kita berpelukan

Aku merindukan itu
Genggaman erat yang kau berikan
Kasih sayang nyata yang kau sampaikan
Nasehat-nasehat konyol yang dilontarkan
Pelukan teramat dalam yang kau sisipkan

Kini apakah masih bisa aku mengharapkan semua itu?
Haruskah aku berjalan mundur untuk mendapatkan semua itu?
Apakah aku hanya bisa menjadi bagian dari masa lalumu?

Aku sangat iri dengan teman-temanku
Hingga kini menggenggam semakin erat
Aku sangat iri dengan teman-temanku
Sampai saat ini selalu merindukan masa-masa itu

Bukan kekasih yang aku inginkan
Bukan harta yang aku cari
Bukan kemewahan yang aku butuhkan
Andai kau tahu

Aku hanya butuh kau, sahabatku
Aku membutuhkan kisah klasik kita
Aku butuh pelipur lara
Aku sangat butuh kau

Kapan kau kembali?
Kapan kau akan memelukku lagi?
Hingga saat ini aku hanya bisa meratap diri
Membayangkan masa lampau akan terjadi lagi

Senin, 14 Maret 2016

Pergi

Aku hanya ingin lari
Menikmati suasana sunyi
Aku ingin bangkit
Tanpa ingin mengungkit

Aku hanya memiliki satu hati
Tidak memiliki banyak janji
Bagaimana bisa aku bertahan
Jikalau hatiku kau jatuhkan

Aku tidak ingin terjerat
Dalam tali yang kau ikat
Aku tak mau mengais
Walaupun aku menangis

Aku katakan aku hanya ingin terbebas
Aku katakan aku tak ingin di hempas
Aku hanya ingin pergi
Walaupun hanya sekali

Jangan kau hianati
Wanita yang kau cintai
Kau pilih, aku pergi dan kau ikut lari
Ataukah kau ingin disini dan tak melihatku kembali

-mia-

Setitik sinar

Terimakasih kau telah hadir dalam hidupku
Terimakasih kau mau menjadi sahabat terbaikku
Terimakasih karena kau tak pernah lelah mengajarkanku
Terimakasih kau telah membuat goresan terindah dalam lembar buku kehidupanku

Kau layaknya bulan yang tak pernah bosan menyelimuti malam
Kau bagaikan mentari yang tak pernah jenuh memeberi kehangatan
Kau ibarat kapal yang tahan akan besarnya ombak dilautan
Kau seperti air yang berada ditengah-tengah gurun pasir

Kata terimakasihku tak mampu memebalas semua jasamu
Sepenggal kalimat ini pun tak akan sanggup mengembalikan semua waktumu
Tapi jasamu tak akan pernah hilang dari diriku
Kau tidak sempurna, tapi kau sungguh istimewa

-mia-
To my lovely teacher. Ibu Mutiara Sari❤

Benci mencintai

Dan pada akhirnya kita akan menyadari
Orang yang kita cinta, bisa kita benci
Orang yang kita benci, akan menjadi seseorang yang paling dicintai.

Katakanlah untuk tidak membenci siapapun
Bicaralah untuk tidak mencintai siapapun
Karena kehidupan akan senantiasa berputar

Tak pernah tahu kapan benci akan pergi
Tak pernah tahu kapan cinta akan datang
Simpanlah kebencian dalam hatimu saja
Biarkanlah rasa cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu kau umbar

Karena sesungguhnya, semua itu bisa saja datang dengan tiba-tiba
Dan dari arah yang tak terduga-duga.

Biarlah benci bersembunyi layaknya seekor hewan yang takut dimangsa.
Tak apa cinta disimpan layaknya tumbuhan putri yang tak ingin menampakkan diri.

Kamis, 10 Maret 2016

Realita

Siapa yang tak ingin berbahagia?
Pasti tak ada
Aku pun sama
Ingin berbahagia
Namu aku sadar ini realita bukanlah drama.
Aku tak bisa terbelenggu dalam cinta
Karena bukan hanya manis yang aku rasa
Pahit pun ada
Lalu aku harus bagaimana?
Haruskah aku pergi agar kau ikut lari?
Oh tidak! Jangan masukkan hati
karena ini hanyalah kata penghibur diri

Mawar Berduri

Rupa mu indah, sayang
Harum mu semerbak
Warna mu mendamaikan
Namun mengapa kau begitu menyakitkan

Kau simpan kesakitan dibalik keindahan
Kau tebar kepedihan dibalik kebahagiaan

Cobalah untuk bercerita
Katakanlah pada dunia
Buktikanlah pada semua
Bahwa kau sangat berguna

Tak apa kau menebar duri dalam hatiku
Silahkan saja kau menghujam jantungku
Tetapi aku akan senantiasa menyayangi mu.

Karena aku tahu
Kau lebih banyak menyimpan keindahan daripada kesakitan.

-mia-

Rabu, 09 Maret 2016

Jenuh

Ingin rasanya aku berteriak layaknya riak ombak dalam laut lepas.
Ingin rasanya aku tertawa lepas bagaikan musim panas.
Tapi aku tak pernah tahu siapa yang akan selalu menemaniku melepas penat. Karena kegundahan tak berani ku ungkapkan.
Aku hanya bisa berdiam menyimpan keresahan yang entah bisa ku tahan sampai kapan.

-mia-

Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu mu untuk meladeni seseorang yang sangat menyebalkan ini. Terimakasih atas hati yang kau berikan untuk seseorang yang sangat menjengkelkan, terimakasih atas kehadiranmu yang membuatku mampu membuka hati demi segores tulisan dalam catatan kehidupanku. Tapi suatu saat Akan ada masa dimana aku merasakan lelah untuk menyimpan rasa cintaku, aku akan berdoa bahwasanya kau mendapatkan kebahagiaan yang kau cari. Semoga kita akan selalu di pertemukan dalam lembaran lembaran lain melalui coretan yang akan kita rangkai dalam setiap langkah kita. Dan sekali lagi terimakasih banyak. Aku percaya kau akan menjadi seseorang yang dapat membanggakan kedua orang tuamu, karena aku tahu kau pasti punya impian bukan? Jangan pernah bosan mendengarkan nasehat-nasehat para sahabatmu, nasehat orangtuamu, dan sedikit cerita dari orang yang menyebalkan seperti aku. Terimakasih sudah membantu aku untuk melengkapi halaman dalam catatan kehidupanmu. Satu hal yang sangat harus kau ketahui bahwa aku tak akan pernah menyesal telah mengenalmu dan pernah menjadi bagian dari kesibukanmu...

Aku adalah mentari

Apakah bagimu aku ini adalah mentari yang sukar dicari?
Apakah aku bagaikan mentari yang hanya sesaat memberikan kehangatan tanpa membuat dirimu merasa nyaman? Kau benar, aku adalah mentari yang hanya datang sesaat dan sangat mudah tergantikan oleh bulan di malam hari. Bulan yang selalu memberikan kenyamanan.
Mungkin udara yang aku miliki tak sesegar udara yang bulan berikan.
Tetapi kau harus ingat bahwa mentari lah yang paling bersinar dan akan paling kau cari, bukan bulan yang hanya bisa kau rindukan.

-mia-

Luka

Sampai kapanpun aku adalah wanita, wanita yang memiliki cita namun sangat mudah untuk sejenak berhenti memikirkan asa, sangat mudah menciptakan luka karena cinta, jikalau hatiku berkata tidak, lantas aku bisa apa? Hanya bisa menatap langit senja.

-mia-

Mendung saja belum tentu dapat menurunkan hujan, tetapi jangan di sangka matahari yang teramat terik tak mampu menghasilkan hujan. Bisa jadi, di tengah-tengah teriknya matahari, hujan dapat turun dengan lebat, dan diikuti dengan angin yang begitu besar. Karena segala sesuatu dapat terjadi dari arah yang tak terduga-duga. Maksud hati ingin bersanding dengan dirinya, tetapi apa daya jikalau takdir tak merestui upaya.

Jumat, 04 Maret 2016

Cinta

Cinta...

Apakah disini hanya aku yang merasakan sakit karena cinta? Seharusnya tidak. Seharusnya tak akan ada orang yang tersakiti karena cinta.
Sebab cinta itu mengasihi
Bukan melukai
sebab cinta itu memekarkan bunga-bunga
bukan menebar duri.

Seharusnya cinta itu layaknya mentari semakin muncul semakin bersinar
Bukan seperti awan yang semakin berkumpul semakin mendung.

-mia-